Sejarah Distro Malang

January 3, 2013 in Uncategorized by Yasmeen

Masih berbau Malang, sebuah artikel lama, dari blog Multiply lama saya. Enjoy!

Begundal Lowokwaru pics by DQ Insomnium

Distro, singkatan dari Distribution Outlet, biasa dimaknai sebagai sebuah toko yang mendistribusikan berbagai barang gaya hidup anak muda, utamanya fashion, dan seringkali juga ada aksesoris, musik, buku, dsb. Dalam perkembangannya, distro sempat menjadi semacam pusat-pusat subkultur tandingan ala anak muda, seperti sub kebudayaan punk/hardcore/metal/indie pop, dan lain-lain. Hal ini dimungkinkan karena di distro banyak bertemu dan berkumpul pikiran-pikiran kreatif dengan segala ide-idenya yang muda dan segar. Meski saat ini sudah tidak banyak distro yang bisa dikatakan sebagai sumber atau pusat kecil subkultur tandingan, saya kira kita bisa sedikit membahas sejarah dimana hal itu pernah terjadi.

Kita pernah memiliki banyak distro (distribution outlet) yang legendaris di kota Malang. Beberapa ada yang menjadi besar, established, dan bertahan sampai hari ini, dan beberapa tidak bertahan lama. Di sini saya ingin sedikit membahas beberapa distro yang pernah berperan cukup signifikan dalam perkembangan subkultur cutting edge/underground di Malang.  (tulisan ini sebenarnya masih sangat miskin research, jadi mungkin suatu saat nanti saya akan melakukan research yang lebih mendalam dan membuat sebuah tulisan yang lebih utuh juga, tapi at least, ini bisa menjadi gambaran awal)

1. Nitro shop
Nitro shop berdiri pada awal tahun 2000an, waktu itu saya masih smp, berlokasi di pusat kota batu, tepatnya di Plaza Batu. Nitro menjadi semacam youth sub culture center di Batu. Mereka menjual berbagai pakaian dan hal-hal keren yang sulit didapat di tempat lain. Saat itu sedang menjamur brand-brand skate/surf seperti Hook Ups, Toy Machine, Volcom, Independent, Think, Bitch, dan semacam itu. Nitro menyediakan baju dan aksesoris brand-brand semacam itu, -tidak original tentunya- namun kualitasnya bagus sekali. Dan jaman itu, brand-brand semacam itu masih menjadi sesuatu yang ekslusif (tidak seperti hari ini, dimana kamu bisa mendapatkan kaos volcom di pasar manapun). Lebih dari clothing, nitro juga menyediakan kaset-kaset rilisan independen, vcd, majalah, patches, pins, dan aneka pernak-pernik independen lainnya. Saya masih ingat ketika dulu saya membeli majalah Ripple nomor 3, dan majalah Trolley nomor 1, dimana kedua majalah ini sekarang telah menjadi semacam legenda sub kultur Indonesia. Saya ingat saya dulu membeli kaset MXPX “at the show”, dan Lagwagon “Let’s talk about feelings/let’s talk about lettovers” sekitar tahun 2002. Saya tidak bisa membayangkan seperti apa perkembangan musikal saya jika tidak ada Nitro shop-mungkin sampai sekarang saya masih mendengarkan musik sampah nu metal Limb Bizkit atau Crazy Town. Jaman itu internet masih menjadi sesuatu yang cukup jauh tak terjangkau, jangankan untuk download lagu, hanya membuka page sebuah band sudah susah. Arus informasi masih sangat terbatas, dari Nitro lah saya tahu band-band macam mxpx, lagwagon, millencollin, dsb. Lebih dari diri saya sendiri, Nitro kemudian menjadi kekuatan penggerak sub kultur yang cukup baik di Batu saat itu, Nitro mensponsori banyak acara underground yang kerap diadakan di GOR Ganesha Batu, yang pada gilirannya memfasilitasi perkembangan band-band underground di Batu. Sampai akhir masa hidupnya pada sekitar 2005-2006, Nitro terus mendukung banyak kegiatan sub kultur, bukan hanya di Batu, namun juga sampai Malang. dan bisa dibilang Nitro telah menjadi salah satu distro terbesar di daerah Malang raya. Hari ini Nitro menjelma menjadi brand Heroine, yang juga memiliki komitmen kuat untuk mendukung sub kultur independen, meski dalam bentuk yang mungkin sedikit berbeda dengan Nitro.

2. Smash Shop
Smash adalah sebuah toko kecil di daerah kawi, pusat kota Malang. Tidak seperti Nitro yang juga menyediakan brand-brand skate/independent clothing, Smash lebih mengkhususkan diri untuk menyediakan rilisan-rilisan independen dan merchandise band underground. Smash menjadi semacam pusat berkumpulnya scenester underground kota malang yang cukup bervariasi, ada anak metal, hardcore, dan anak punk di sini. Sayang distro ini tidak bertahan lama, hanya sekitar 2 tahun. Dan dalam masa hidupnya yang singkat itu, smash telah menjadi faktor penting pendorong perkembangan sub kultur underground kota Malang.

3. Red Cross
Red cross berada di bilangan Dinoyo. Distro ini menjadi salah satu distro dalam gelombang awal demam distro di kota malang sekitar tahun 2005/2006. Saat itu mereka menyediakan pilihan clothing yang cukup berbeda, yang tidak ada di tempat lain. Distro ini juga menyediakan berbagai rilisan independen dari bandung/Jakarta. Distro ini sempat menelurkan media zine solid rock, yang bertahan hingga beberapa edisi, dan bahkan memberi bonus CD dalam beberapa edisinya.

4. Rock Bandits
Rock bandit pernah mengisi kekosongan ‘the loudest distro in Malang’ ketika smash vakum. Dari Rock Bandits bergema band-band dari bagian utara kota malang, seperti Primitive Chimpanzee, Antiphaty, mobster, dan Jet Adore. Sebagai Brand, Rock Bandits juga pernah menghasilkan desain yang cukup fenomenal untuk produk t-shirt, dompet, dan aksesoris-aksesoris lain.

5. Libertarian
Libertarian adalah sebuah distro anarkis kolektif yang dioperasikan oleh penggiat punk malang. Libertarian benar-benar menyajikan wacana yang komprehensif tentang ide-ide underground, khususnya yang berbau anarkisme dan punk. di distro ini tersedia banyak sekali zine, rilisan underground, dan merchandise band independent. Distro ini sempat tutup, dan membuka bisnis di Batu beberapa saat, sebelum menghembuskan nafasnya yang terakhir.

sebenarnya masih ada beberapa lainnya, seperti hyena, yang kemudian menjadi Hyena/Smash yang merupakan kelanjutan Smash, Revolver yang masih bertahan sampai hari ini, Inspired yang menjadi besar, dan lain sebagainya.